Dimulai
beberapa tahun lalu waktu salah Satu Dosen mengatakan, "Saya yakin semua
mahasiswa/I disini sudah pasti perah ke Jogja" wah saat itu jangankan ke
Jogja untuk berlibur ke samarinda yang jarak tempuhnya hanya 3 jam dari tempat
saya tinggal saja sangat sulit saya lakukan karena Orang Tua yang terlalu protektif, jika di pikir itupun untuk kebaikan saya, Hingga tercipta
sebuah janji bahwa suatu saat saya harus ke Jogja.
Tepatnya
bulan April 2013, saya benar-benar menunaikan janji saya untuk berlibur ke
Jogja, Solo Traveller menjadi pilihan saya. semua internerary sudah
siap dari budget sampai tempat wisata, jika di katakan Jogja adalah tempat yang
ramah untuk para Backpacker seperti
saya maka saya akan mengatakan benar 100%, kearifan budaya lokal. keramahan
penduduk, tempat wisata yang masih terjaga rapi.
Ikon Kota Jogja Tugu With fren..
Pertama
kali menginjakan kaki di Jogja, terpikir kata Malioboro, kopi Joss dan nasi
kucing, dimalam pertama itu sumua langsung saya cicipi. menginap di rumah teman
sesama anggota PA (Penikmat Alam) setidaknya
meminimkan biaya penginapan, inilah keuntungan seorang BAckpacker jika berjalan
yakinlah bahwa semua yang Kita temui di perjalanan adalah Orang baik.
Menikmati Musik Jalanan di Sepanjang Malioboro
Hari
pertama di Jogja, pilihan wisata jatuh pada Borobudur perjalanan memakan waktu
kurang lebih satu jam. Dengan menyewa sepeda Ontel saya menyusuri Desa wisata
yang ada di seputaran Borobudur, menikmati hamparan luas sawah yang mulai
menghijau dan sebagian lagi sudah siap panen. kerajinan tangan khas Jogja dan
kehidupan Jogja di masa lampau. menjelang siang saya menuju Borobudur sungguh
besar keagungan ciptaan-NYA, dengan biaya tiket 30 ribu rupiah kita sudah dapat
menikmati Borobudur dengan Leluasa. Mempelajari sejarah membuat kita bisa
merenungkan kembali hakikat dari nilai-nilai perjuangan. Membuat kita makin
menyadari bahwa Indonesia itu merupakan negeri yang benar-benar kaya akan
budaya dan keragamannya. Maka, teramat bodoh jika kita tidak bisa
memanfaatkannya dengan baik, apalagi kita tidak mengetahuinya. Banyak sekali
kisah yang diceritakan di Candi terbesar Umat Budha itu. Mulai dari cerita
zaman kerajaan, makna pembuatan stupa, cerita di setiap reliefnya, hingga
rekonstruksi Candi Borobudur yang pernah terkubur akibat amukan gunung merapi
sekitar tahun 1000-an.
Hari
kedua perjalanan saya di Jogja. saya mengunjungin Kaliurang. Hujan tidak
menyulutkan keingin saya untuk terus berjalan. musium Ulen Sentalu menjadi
pilihan dengan tiket 25 ribu rupiah kita akan di bawa mengenang kisah raja-raja
Jogja dari Hamengkubuono I hingga sekarang. banyak peninggalan-peninggalan yang
bisa kita lihat langsung. benar-benar pengalaman yang tidak akan terlupakan.
dan sejuta pengetahuan baru ku dapatkan di sana.
Satu
destinasi ini tidak boleh terlewatkan adalah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Bertiga dengan teman yang saya temui di
Jogja. Berkeliling keraton dan mengenal sejarah budaya Jogja sungguh pengalaman
yang menyenangkan. Ada sedikit perasaan jengkel ketika berkunjung ke Taman
Sari, bukankah tempat sejarah sebaiknya dijaga dan dirawat mengapa banyak
sekali saya temui Vandalisme yang
sebaiknya tidak ada dan SANGAT TIDAK PENTING untuk di terapkan. Berakhir di House of Raminten bergaya restoran kelas
atas dengan menu yang sederhana dan tentu saja sangat terjangkau.
Sebelum
kembali ke Balikpapan karena penerbangan saya sore hari. Di pagi harinya saya
menyempatkan diri ke Prambanan atau disebut juga candi Roro jonggrang adalah
candi Hindu terbesar di Indonesia pada abad ke 10 masehi. Berjalan mengitari
Prambana hingga ke candi Sewu melewati kandang rusa dan berakhir di pasar yang
berada di samping candi sebagai pintu keluar.. Petualangan selama 4 hari Jogja membuat
saya tertarik dengan kota ini banyak cerita, Persahabatan dan pengetahuan yang
saya dapatkan disana. Jika ada yang mengatakan membenci INDONESIA pada bagian
mana kalian membencinya ? Indonesia kaya akan budaya, kaya akan keramahan, kaya
akan senyuman dan kaya akan hasil alam. CINTAILAH INDONESIA .




0 comments:
Post a Comment